Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

Sastra Minangkabau


Karya Sastra Minangkabau
Karya sastra Minangkabau adalah karya seni yang menggunakan bahasa Minangkabau sebagai mediumnya. Isinya membicarakan tentang manusia dan kemanusiaan, tentang hidup dan kehidupan masyarakat dan budaya Minangkabau.

Ciri umum karya sastra Minangkabau:
1. Menggunakan bahasa Minangkabau.
2. Berlatarbelakang budaya Minangkabau.
3. Berbicara tentang manusia dan kemanusiaan Minangkabau.
4. Berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat Minangkabau.
5. Diwarnai oleh kesenian Minangkabau.

Di dalam berbagai karya sastra Minangkabau akan sangat banyak ditemukan kata-kata adat. Ragam kata-kata adat itu misalnya:

I.     Kato petatah
Yaitu kata-kata yang mengandung patokan hukum atau norma-norma yang bisa menjadi tuntunan kehidupan.
Contoh : hiduik dikanduang adat

II.  Kato petiti
Yaitu kata-kata yang bisa menjadi jembatan atau jalan yang bisa ditempuh dengan lebih baik untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kato petiti digunakan untuk menjelaskan kato petatah.
Contoh : adaik hiduik tolong-manolong, adaik mati janguak-manjanguak
adaik lai bari-mambari, adaik tidak basalang tenggang
karajo baiak baimbauan, karajo buruak bahambauan
(kato petiti untuk menjelaskan “hiduik dikanduang adat”)

III.             Mamangan
Yaitu kalimat yang mengandung arti sebagai pegangan hidup, sebagai anjuran ataupun larangan.
Contoh : anak dipangku, kamanakan dibimbiang (anjuran)
gadang jan malendo, cadiak jan manjua (larangan)

IV.             Pituah
Yaitu kalimat yang mengandung ajaran nasihat yang bijaksana.
Contoh : bakato marandah-randah, mandi di ilia-ilia
lamak dek awak, katuju dek urang

V.  Pameo
Yaitu kalimat yang jika dilihat artinya tampak berlawanan, bahkan tidak mungkin terjadi.
Contoh : duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang

VI.             Kieh
Yaitu kata-kata kiasan yang berisi sindiran.
Contoh : “ndeh, kuciang ko, banyak bana makan, manangkok mancik indak amuah!”
Karya sastra Minangkabau dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu puisi dan prosa.

VII.Puisi
a.       Pasambahan adat >> teks pidato yang menggunakan gaya bahasa sastra
b.      Pantun >> terdiri dari sampiran dan isi
c.       Talibun >> pantun yang terdiri dari 6 – 12 baris
d.      Seloka >> pantun 4 baris yang terdiri dari beberapa untai
e.       Gurindam >> saripati kata yang tersusun dalam 2 dan 4 baris

VIII.       Prosa
a.       Tambo >> Sejarah yang dituangkan dalam bahasa sastra Minangkabau
b.      Kaba >> Cerita-cerita yang mengandung nilai moral

(sumber http://ukm.unit.itb.ac.id/index.php?opti...&Itemid=9)

Minggu, 30 Oktober 2011

Puisi


Kapal Pecah

Mimpi buruk nahkoda terjang ombak pasang, semuanya saling salah menyalahkan,
Asa ku berlayar dengan cadik yang engkau kumalkan, isyaratkan ketegasan yang menanyakan iman, keyakinan dan kekuatan azam, jangan pernah kau sangka lagi mereka kurang kawan,  pengetahuannya meluasi samudra hitam yang terkangkang, sekarang lentera jahanam telah membakar awak kapal yang dijuluki siraja hitam yang kehilangan arah.
 siapa yang kau salahkan..?
Hangus terbakarlah beliau, Berteriak sehening tokek memandang didepan mataku yang telanjang.
Aku sadar dan berkata-kata seperti kesibukanmu kegelisahan.
Ingin sekaliku kadukan kepada tuhan, sambil terisak-isak dan menangis aku ceritakan semua kepadNya, aku sedih tuhan, dan aku ingin membalaskan dendam orang yang aku sayang yang dia tamatkan dengan alasan kebohongan ku saksikan kezalimannya tuhan,
Hei tuan-tuan, ini salahmu,
 Ibu, bayi, kau tidurkan dijalanan, dia meanampung karena kelaparan, sedangkan engkau menganggap karena tidak mau berusaha, kau anggap mereka karena kemalasan yang diwariskan bapaknya.
Semuanya salahmu, jangan kau bilang dia anak tak bertuhan,  tercukam hati ini tuan,
Ku cabik, ku tusuk, ku basahi bumi ini dengan darah jahannam warisan dari masamu yang serba kurang.
Tak ada kedamaian lagi bagiku, telah habis kesabaran ini karna fitnahmu,
Asma wa sifat berbanding terbalik dengan apa yang kau khotbahkan, teks panjang yang kau ceritakan membuat ibuku senyum dan jatuh cinta, kau hancurkan keluargaku, aduh gila tak terbayangkan betapa kecewanya bapakku.
Karimuntiang, 8 Agustu 2011